-
Ya Ali..ya Ali..ya Ali..
-
Ya Ali Madad..
-

UNTUK MENINGKATAKAN RIZKI, MEMUDAHKAN BERBAGAI URUSAN SULIT, DAN MEMBAYAR HUTANG.
Al-Majlisi meriwayatkan bahwa Imam Sajjad as, berkata : “ Pada hari Senin awal bulan, mulailah membaca surah Al-Waqiah, sampai hari ke-14. Setiap hari membaca surah Al-Waqiah sebanyak bilangan hari. Misalnya pada hari ke 14 membacanya sebanyak 14 kali. Dan pada saat hari Kamis, setiap kali usai membaca surah Al-Waqiah, bacalah Do’a yang di baca pada usai baca Yasin pada malam Nisfu Sya’ban ( Pada amalan terdahulu). Sebagai berikut :
“ Yaa man tuhallu bihi ‘uqadul makaarih”
Wahai Dia yang karena-Nya kusut masai kesulitan terpecahkan.
Sayyid Hasan Al-Lawasani dalam Kasykul-nya berkata: Amalan ini untuk meningkatkan rizki dan memudahkan urusan-urusan sulit, dan membayar hutang, sungguh mujarab. Dia berkata kepadaku (Sayyid Hasan Al-Lawasani kpd Pengarang kitab ini): Aku mengamalkan amalan ini sejak umur 40 tahun.
Disebutkan dalam beberapa kitab : “Amalan ini sudah terbukti mujarab, Allah akan memberi rizki pembacanya sebelum genap 14 hari.”
Aku sendiri (Penyusun kitab ini) telah 2 kali mengamalkan, dan benar sebelum genap 14 hari aku sudah mendapat hasilnya….Referensi : ( Kitab: “Al-Tuhfah Al-Ridhawiyah fi Mujarrabatul Imamiyah” Karya : Sayyid Muhammad Ridha Ridhawi. Bab.I hal.37- 41)
==================================
للَّهُمَّے صَلِّے عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِے مُحَمَّدٍ وعَجِّلْے فَرَجَهُمْےDemikian semoga bermanfaat buat diri kami dan kepada mereka yang mengamalkannya.
Wassalam.
-

KISAH KARAMAH KESYAHIDAN IMAM HUSAIN AS.
MASYHAD IMAM HUSAIN AS.
Untuk mengenal sejarah tempat mulia ini seyogianya kita memperhatikan beberapa poin.
1. Sebelum masa Islam, tempat ini merupakan rumah pendeta yang terkenal dengan rumah pendeta Martmarusa, yang terdiri dari dua kamar kecil. Para wartawan keluargga Muhammad saw, berhenti di dekatnya, dan pendeta itu memberikan sejumlah uang kepada penanggung jawab tawanan itu sehingga dia bisa membawa kepala Imam Husain as dan meletakannya di atas sebuah batu. Darah menetes dari kepala Imam Husain yang suci ke atas batu itu. Pada saat fajar mereka mengambil kepala Imam Husain as darinya setelah pendeta itu masuk Islam dengan berkahnya.
2. Batu yang ditetesi darah dari kepala Imam Husain as ini masih tetap ada dari semenjak tahun 61 H hingga 333 H. Tahun 333 H merupakan tahun masuknya Syaifud Daulah Hamadani ke Halb dan dia mendirikan kerajaanya di sana. Banyaknya Ziarah batu itu, mendatangkan banyak kebaikan kepada penduduk sekitar rumah pendeta itu. Kemudian Syaifud Daulahlah orang pertama yang memimpin pembangunan tempat agung ini pada abad keempat Hijriyah sebagai pemuliaan dan pengagungan bagi tetesan darah dari kepala Imam Husain as yang sangat berhargga.
3. Tempat ini menjadi tempat ziarah dari abad keempat Hijriyah dan terkenal sebagai Masyhad Nuqthah atau Masyhad Imam Husain as hingga ia dikuasai oleh penguasa Al-atrak, tahun 1333 H. Mereka melarang orang-orang menziarahinya setelah mereka mengubahnya menjadi gudang senjata. Bagian dalam gudang senjata ini meledak pada tanggal 20 Muharam 1337 H. Batu-batu berdatangan dan berterbangan di atas bangunan itu hingga beberapa kilometer jauhnya. Sebagian penduduk kota ini menceritakan sebagian karamah dari batu (tempat tetesan darah Imam Husain as) ini sebelum dan ketika meledaknya masyhad ini.
4. Sampai tahun 1379 H bangunan ini masih porak poranda hingga kemudian dalam perjalanan sejarahnya di bentuk sebuah organisasi dengan nama Organisasi Pembangunan dan Pelayanan Islami al-Ja’fariyah. Tujuan dari organisasi ini adalah merenovasi bangunan masyhad ini sebagaimana sebelumnya dan mengadakan berbagai program sosial. Dengan dukungan dari kemarjaan agama mazhab Syi’ah dan juga dukungan dari kaum mukmin, organisasi ini mampu merehabilitasi bangunan ini dan program ini terus berjalan.
(dari kitab Atsaru ali Muhammad fi Halb, ditulis oleh Ketua Organisasi Penanggung Jawab Masyhad Syekh Ibrahim Nashrullah.)
AKHIR SANG TAGUT UBAIDILLAH BIN ZIYAD.
Ketika Imam Husain as berjalan bersama dengan seluruh harta benda dan keluarganya ke Irak, Imam berhenti di Karbala. Tak lama, Ibnu Ziyad mengirim surat padanya. Di dalamnya ia mengatakan :
Amma ba’du. Wahai Husain, telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau sudah sampai di Karbala dan aku sudah mengirim surat kepada Amirul Mukminin Yazid, aku tidak akan tidur nyenyak dan tidak akan makan enak hingga engkau bertemu dengan Tuhan Yang Maha Halus dan Maha Mengetahui, atau engkau kembali kepada hukumku dan hukum Yazid.”
Ketika disampaikan suratnya dan Imam Husain as membacanya, beliau melemparkannya dari tangannya. Kemudian beliau berkata, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang keridaan makhluk bersama kemarahan Sang Pencipta.”
Si pembawa surat berkata,”mana jawaban dari surat ini..?”
Beliau berkata padanya,”Tidak ada jawaban dariku. Karena kata azab sudah tersemat kepadanya.”
“Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang.”
“Mati dalam mempertahankan agama kakekku adalah lebih mulia dari pada harus membaiat orang yang merusak agama kakekku.”
Utusan itu kembali kepada Ibnu ziyad dan mengabarkan apa yang terjadi.
Si terkutuk Abdullah bin Ziyad sangat marah.(Maqtal al-Khawarizmi, 1/239)
Hal ini menjadikan Ibnu Ziyad berencana membunuh Imam husain as beserta seluruh saudara, sahabat dan syiahnya..
1. Ketika Imam Husain as syahid dan keluarga perempuan serta anak-anak beliau dibawa sebagai tawanan ke Kuffah, Abdul Malik Kardusi berkata dari sisi Ubaidillah bin Ziyad, dia berkata, “Aku memasuki istana di belakang Ubaidillah bin Ziyad ketika terbunuhnya Husain as, maka terlihat di wajahnya bekas api.”
Dia (Abdul Malik) berkata dengan lengan baju menutupi wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya dari api tersebut yang membakarnya.
Ibnu Ziyad berkata kepada pengawalnya, “Apakah engkau melihatnya…?”
Aku berkata,”Ya.”
Dia memerintahkanku untuk menyembunyikannya.
2. Sebagian orang meriwayatkan : Disampaikan kepadaku oleh sebagain orang yang hadir bersama dengan Ibnu Ziyad di istananya ketika mereka datang dengan membawa kepala penghulu para syuhada as. Dia (salah seorang hadirin) berkata,”Aku melihat api keluar dari istana.”
Maka Ubaidillah bin Ziyad segera berlari dari majlisnya ke rumah di sekitarnya dan api tambah membesar.
Kepala Imam Husain as berbicara dengan suara yang keras dan fasih hingga di dengar oleh Ibnu Ziyad dan seluruh orang yang ada di istana. Kepala mulia itu berkata,”Kemana engkau lari, wahai sang terkutuk. Jika api itu tidak membakarmu di dunia ini, maka dia akan mampu membakarmu di akhirat kelak.”
Dia berkata,”Itu adalah tempat kembalimu pada hari kiamat.”
Dia berkata,”Semua orang yang hadir berlutut dan bersujud. Karena api itu dan karena kepala itu. Mereka memukul-mukul kepala mereka karena hal itu, (penyesalan atas terbantainya Imam Husain as dan keluarganya). Ketika api meninggi dan kepala mulia itu diam, Ubaidillah bin Ziyad kembali dan duduk di tempatnya, kemudian dia meminta kepala itu. Kepala itu dihadirkan dihadapannya, kemudian dia meminta kepala itu. Kepala itu dihadirkan dihadapannya sementara dia sedang berada dalam bak emas. Ibnu Ziyad mulai memukul gigi Imam Husain dengan dahan pohon yang di pegang tangannya, serta mengejeknya.
Dia berkata, “Engkau cepat beruban, wahai abu Abdillah.”
(Madinat al-Ma’ajiz,4/123)
3. Dari Ammarah bin Umair dia berkata, “Ketika kepala Ibnu Ziyad yang terkutuk dan antek-anteknya di bawah, kemudian di tumpuk di masjid hingga selesai, orang-orang berkata, sudah datang, sudah datang. Saat itu ada ular datang di tengah-tengah tumpukan kepala itu hingga dia masuk kedalam lubang hidung Ubaidillah bin Ziyad, berdiam sejenak di dalamnya, kemudian keluar, dan perggi hingga menghilang.kemudian orang-orang berkata, “sudah datang..! Sudah datang..!Sudah datang..! akupun melakukan hal itu dua sampai tiga kali.”
(Maqatal al-Husain, Khawarizmi, 1/84 dan 235 dll)“Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang.” (Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib).
Kullu yaumin Asyura, Kullu Ardin Karbala (Setiap Hari adalah Asyuro, Setiap Tanah adalah Karbala ) -

SURAH YASIN DAN MANFAATNYA.
UNTUK PENGHIDUPAN DAN MEMECAHKAN SEGALA MASALAH JUGA SUPAYA TERJAGA DARI SETAN DAN KECELAKAAN.
Abu Bashir meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadi as. Beliau berkata : “Segala ssesuatu ada hatinya, dan hati Al-Qur’an adalah (surah) Yasin. Siapa yang membaca Yasin pada siang hari, dia akan terjaga dan diberi rezki pada siang harinya, sampai waktu sore. Siapa yang membaca Yasin sebelum tidur, seribu malaikat akan ditugaskan untuk menjaganya dari setiap setan terkutuk, dan dari setiap kejelekan.”Dalam kumpulan Doa-Doa Mujarab Sayid Muhammad Khaminh disebutkan : Bacalah surah Yasin 3 kali setiap hari, mulai hari jumat sampai hari kamis pada minggu berikutnya, sehingga seluruh bacaan menjadi 21 kali. Setiap hari, seusai membaca surah Yasin, baca Doa ini 1 (satu) kali :
“Yaa man tuhallu bihi ‘uqadul makaarih”
Wahai Dia yang karena-Nya kusut masa kesulitan terpecahkan.
Jika memungkinkan, sebaiknya dibaca surah Yasin 21 kali dalam satu kali duduk, dan setelahnya membaca Doa diatas. Ini mujarab untuk memecahkan segala perkara. Nah jika anda mau memperoleh khasiat untuk keluasan rizki dan penghidupan, anda mulai saja pada hari Kamis.
(Kitab: Al-Tuhfah Al-Ridhawiyah fi Mujarrabatul Imamiyah. Oleh, Sayyid Muhammad Ridha Ridhawi. Bab.I, Hal.36)
Demikan semoga bermanfaat buat diri kami, dan anda yang mau mengamalkannya. -
Pemilihan Pemimpin Islam
PEMIMPIN ISLAM DARI ZAMAN NABI ADAM AS SAMPAI KIAMAT “
SELALU DI PILIH ALLAH . BUKAN DI ANGKAT OLEH MANUSIA SEGELINTIR
38:26.————- Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,
29:27. Dan Kami anugrahkan kepda Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada ____ keturunannya,________
7: 3. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya[528]. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).
[1148]. “”“”“” Yaitu dengan memberikan anak cucu yang baik, kenabian yang terus menerus pada keturunannya “”“”“”, dan puji-pujian yang baik.
2: 124. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu”“”“” imam bagi seluruh manusia”“”“”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
6: 87. Dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. “””” Dan Kami telah memilih mereka “”””” (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
6: 89. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya
21: 73.””””” Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin “””” yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah -
KARAMAH KESYAHIDAN IMAM HUSAIN AS.
NASIB PEMBUNUH DUA ANAK MUSLIM BIN AQIL BIN ABI THOLIB.
Dari Muhammad bin Muslim. Dari Imran bin A’yan, dari Abu Muhammad, salah seorang Syekh penduduk Kufah, dia berkata, ”Ketika Husain terbunuh, dua orang anak tertangkap dari kemahnya (Imam Husain as) yang kemudian di serahkan kepada Ubaidillah bin ziyad. Lantas dia memanggil sipir penjaranya.
Dia berkata, “kamu bawa kedua anak ini. Jangan beri makanan yang enak, jangan beri minuman yang segar dan sempitkan penjara keduanya.’
Kedua anak ini berpuasa pada siang hari dan ketika malam menjelang mereka hanya di beri dua kerat roti kering serta satu kendi air tawar saja.
Kedua anak itu terus dipenjara hingga sudah setahun.
Salah seorang anak ini berkata kepada temannya, ‘Saudaraku, kita sudah lama dipenjara. Umur kita terus bertambah dan badan kita semakin melemah. Jika Syekh (sipir penjara) itu datang, kita beritahu dia kedudukan kita dan kita mendekatkan diri kepadanya dengan perantaraan Muhammad saw, semoga dia bisa memberikan kita tambahan makanan dan minuman buat kita.
Ketika malam menjelang, syekh itu datang menemui keduanya dengan dua kerat roti dari sejenis gandum dan satu kendi minuman air tawar.
Anak yang terkecil berkata kepadanya, “Wahai bapak, apakah anda mengenal Muhammad saw..?”
Syekh itu menjawab, “Mengapa saya tidak mengenal Muhammad, sementara dia adalah nabiku.’
Anak itu bertanya lagi, ”Apakah anda mengenal Ja’far bin Abi Tholib..?’
Dia menjawab, bagaimana saya tidak mengenal Ja’far sementara Allah sudah menjadikan dua sayap untuknya yang dengan kedua sayap, dia bisa terbang bersama dengan malaikat kemanapun dia pergi.”
Anak itu bertanya lagi, “Apakah anda mengenal Ali bin Tholib..?’
Dia berkata, “Bagaimana saya tidak mengenal Ali sementara dia adalah anak paman Nabiku dan saudara Nabiku.”
Anak itu berkata kepadanya, “Wahai bapak kami ini adalah dari keturunan Nabi anda, Muhammad saw. Kami anak dari Muslim bin Aqil bin Abi Tholib yang sekarang ini anda penjara. Kami meminta makanan yang lebih baik yang bisa kami makan dan minum, dan juga anda sudah menyempitkan penjara kami.”
Syekh itu berlutut dan menciumi kedua anak itu, “Jiwaku menjadi tebusan kalian berdua dan aku akan melindungi kalian. Wahai itrah Nabi Allah al-Mustafa, pintu penjara terbuka untuk kalian berdua. Sekarang, pergilah kemana pun kalian suka.”
Seperti biasa ketika malam tiba, syekh itu mendatangi kedua anak itu dan membawakan dua potong roti dan sekendi air tawar dan dia mengantarkan kedua anak itu keluar dari penjara..
Syekh itu berkata kepada keduanya, “Anakku, pergilah malam ini, karena siang akan menjelang. Semoga Allah akan memberikan jalan keluar dan solusi bagi masalah kalian berdua ini.”
Kedua anak itu pun malaksanakan perintah syekh itu.
Ketika malam menjelang, mereka berhenti di depan rumah seorang perempuan tua.
Keduanya berkata kepadanya, “Wahai ibu, kami berdua adalah anak yang tersesat dan kami tidak mengenal jalan di sini sementara malam sudah tiba. Izinkam kami menginap di rumah anda malam ini. Besok siang kami akan melanjutkan perjalanan kami.’
Ibu itu berkata, “Anaku siapa kalian berdua ini..? aku mencium semua wewangian tapi aku belum pernah mencium wangi sewangi dari kalian berdua ini.”
Mereka berkata kepadanya, “Wahai ibu, kami ini adalah itrah Nabi Muhammad Saw, kami melarikan diri dari penjara Ubaidillah bin Ziyad. Aku khawatirkan dia akan membahayakan kalian dan membunuh kalian berdua.”
Mereka berkata, “Tetapi malam sudah gelap sekali, esok kami akan pergi.”
Ibu itu berkata,”kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian berdua.
Kedua anak itu makan dan minum.
Ketika mereka berada di kamar tidur, yang kecil berkata kepada yang besar, “Aku berharap kita malam ini masih bisa selamat. Karena itu, kakak kesini aku ingin memelukmu dan aku ingin di peluk oleh kakak. Aku juga ingin mencium wangi kakak dan kakak mencium wangiku, sebelum kematian memisahkan mita berdua.”
Kedua anak itu saling berpelukan dan saling menghirup wangi mereka masing-masing. Setelah itu keduanya tidur.
Ketika tengah malam, menantu laki-laki nenek yang fasik itu datang. Dia mengetuk pintu dengan halus.
Nenek itu berkata, ‘Siapa itu..?’
Dia berkata, ‘Aku fulan.’
Nenek itu berkata lagi, ‘Siapa yang menyuruhmu datang pada malam-malam begini dan ini bukan waktu kesini.?’
Dia berkata,’celaka kau, cepat buka pintu, sebelum aku kehilangan akal sehat dan sebelum pecah kantung empeduku. Di kantongku ini musibah sedang menimpaku.”
Si nenek itu berkata, “Engkau yang celaka, apa yang menimpamu itu..?’
Dia berkata ada dua anak yang kabur dari markas Ubaidillah bin Ziyad. Dan tadi di markas Ubaidillah mengumumkan bahwa barangsiapa yang bisa membawa barang salah satu kepala dari kedua anak itu, maka dia akan diberi seribu dirham, dan barang siapa yang bisa membawa keduanya, maka dia akan di beri duaribu dirham. Aku sudah capai dan lelah tetapi aku belum mendapatkan apapun.’
Si nenek itu berkata, “Wahai nak, aku ingatkan bahwa Muhammad akan menjadi musuhmu nanti diakhirat ( kalau membenuh kedua anak itu ).
Dia berkata, ‘Ah, dunia ini yang di dambakan.’
Si nenek itu berkata lagi, ‘Apa yang akan kau perbuat dengan dunia ini sementara tidak ada akhirat di dalamnya..?’
Dia berkata, ‘Aku menduga engkau menyembunyikan kedua anak itu. Sepertinya engkau menyembunyikan apa yang di cari oleh Ubaidillah. Berdirilah..! ubaidillah memanggilmu.’
Si nenek itu berkata, ‘Apa yang di lakukan Ubaidillah kepadaku..? Aku ini hanya seorang nenek tua renta.’
Dia berkata, ‘Nah, aku punya satu permintaan. Bukalah pintu untukku hingga aku bisa beristirahat. Pagi besok, aku akan bangun lebih awal dan memikirkan bagaimana caranya menemukan kedua anak itu.’
Akhirnya, si nenek membukakan pintu untuknya dan memberinya makan dan minum yang langsung di santap sama menantunya yang fasik itu.
Pada tengah malam dia mendengar dengkuran kedua anak itu. Karena penasaran, dia berjalan perlahan-lahan seperti seekor musang yang menangkap ayam, atau seperti seekor serigala yang akan menerkam domba. Dengan perlahan, dia meraba-raba dinding kamar hingga tangannya memegang salah seorang dari tangan anak yang terkecil.
Si anak itu berkata kepadanya, ‘Siapa ini..?
Dia menjawab, ‘Kalau aku pemilik rumah ini, kalian siapa berdua.?
Si kecil bangun membangunkan kakaknya, dan berkata,’kakak bangun kak, demi Allah sudah tiba apa yang selama ini kita khawatirkan.’
Se lelaki itu berkata, ‘siapa kalian berdua..?’
Mereka berkata, ‘Bapak, jika kami berkata jujur, apakah bapak akan melindungi kami..?’
Dia berkata, ‘Ya.’
Mereka berkata, ‘Dalam perlindungan Allah, perlindungan Rasul-Nya, dalam keamanan Allah dan keamanan Rasul-Nya..?’
Dia berkata, ‘Ya.’
Mereka berkata, “Demi Allah, apakah atas perkataan kami, bapak bertanggung jawab dan bersaksi..?’
Dia menjawab, ‘Ya.’
Mereka berkata, ‘Wahai bapak, kami ini termasuk itrah Nabi muhammad saw. Kami melarikan diri dari penjara ubaidillah bin ziyad karena takut di bunuh.’
Dia berkata kepada keduanya, ‘Dari kematian kalian melarikan diri dan sekarang kalian terjerumus kepada kematian. Segala puji bagi Allah yang sdh membuatku berhasil menemukan kalian.’
Dia bangkit dan meringkus keduanya. Pada malam itu, kedua anak itu dalam keadaan yang terikat. Tatkala subuh menjelang, se lelaki itu memanggil budaknya yang berkulit hitam yang bernama Falih. Dia berkata kepadanya, ‘Bawa bawa kedua anak ini dan giring mereka berdua di pinggiran sungai Efrat,penggal kedua lehernya dan berikan kedua kepalanya kepadaku biar nanti akau akan membawa ke Ubaidillah bin ziyad sehingga aku bisa membawa pulang hadiah dua ribu dirham.’
Budaknya itu membawa pedang dan berjalan di depan kedua anak tersebut.
Belum jauh berjalan, salah seorang anak itu berkata kepada kedua budak itu, ‘Wahai hitam, betapa miripnya hitammu dengan hitamnya Bilal, muadzdzin Rasulullah saw.’
Dia berkata, ‘Tuanku, sudah memerintahkanku untuk membunuh kalian berdua. Siapakah kalian berdua ini.?’
Mereka berkata, ‘wahai hitam, kami adalah keturunan Nabimu saw. Kami melarikan diri dari penjara Ubaidillah bin Ziyad karena takut di bunuh. Nenek itu sudah menerima kami sebagai tamu, sementara maulamu ingin membunuh kami.’
Budak hitam itu bersujud di kaki kedua anak itu sembari menciuminya dan berkata, ‘Jiwaku sebagai tebusan kalian dan aku akan melindungi kalian wahai itrah Nabiyullah al-Musthafa. Demi Allah, aku tidak akan menjadaikan Muhammad saw sebagai musuhku di hari kiamat..
Kemudian budak itu menyarungkan pedangnya dan menceburkan dirinya kedalam sungai kemudian menyebrangi sungai itu.
Tuanya berteriak, ‘Wahai budak, kau melawanku..?.
Si budak itu berkata, ‘Wahai tuanku, aku hanya menaatimu selama engkau tidak bermaksiat kepada Allah. Jika engkau bermaksiat
kepada Allah, maka aku berlepas diri darimu dunia dan akhirat.
Kemudian dia (si tuan) memanggil anaknya.
Dia berkata, ‘Wahai anaku bawa kedua anak ini dan giring mereka ke pinggir sungai Efrat. Penggal kedua lehernya dan berikan kepala keduanya kepadaku biar nanti aku bawa ke Ubaidillah bin Ziyad sehingga aku bisa membawa pulang hadiah dua ribu dirham.”
Anaknya itu mengambil pedangnya dan menggiring kedua anak itu.
Belum jauh dia berjalan, salah seorang darui anak itu berkata, “Wahai abang, aku sangat khawatir masa mudamu akan terbakar api neraka.’
Dia berkata, “Memangnya, siapa kalian berdua ini..?’
Keduanya berkata, ‘Aku adalah itrah dari nabimu Muhammad saw, ayahmu ingin membunuh ksmi.’
Lantas anak muda itu berlutut di kedua kaki anak itu dan menciumnya, serta mengatakan apa yang dikatakan oleh budak hitam tadi. Dia melemparkan pedangnya dan menceburkan diri ke sungai kemudian dia menyebrangi sungai.
Bapaknya berteriak, ‘Anaku, kau telah melawanku.’
Anaknya berkata, ‘Karena aku menaati Allah dan melawanmu lebih aku sukai dari pada aku bermaksiat kepada Allah dan menaatimu.”
Si bapak itu berkata, ‘Tidak ada lagi yang bersedia membunuh kalian berdua.’
Akhirnya, dia sendiri yang kemudian menghunus pedangnya dan menggiring kedua anak ini. Ketia sudah berada di pinggir sungai Efrat, pedangnya terlepas dari sarungnya. Kedua anak itu melihat kearah pedang yang tidak bersarung itu dan mata keduanya bercucuran air mata.
Mereka berkata kepadanya, ‘Wahai bapak ayo perggi ke pasar dan dengarkan apa keutamaan kami. Bukankah engkau tidak ingin Muhammad Saw, menjadi musuhmu pada hari kiamat kelak..?”
Dia berkata, “Tidak, tetapi aku akan membunuhmu dan aku akan membawa kepala kalian kepada Ubaidillah bin Ziyad sehingga aku bisa membawa pulang dua ribu dinar itu.’
Mereka berkata lagi, “Wahai bapak, apakah anda tidak ingin menjaga kekerabatan kami dengan Rasululah saw…?
Dia berkata, “Kalian tidak memiliki kekerabatan dengan Rasulullah saw.’
Mereka berkata,”wahai bapak, ayo bersama kami menghadap Ubaidilah bin Ziyad hingga dia bisa menghukumi masalah klita ini.’
Dia berkata, “Aku tidak akan melihat jalan lain kecuali aku menghadapnya dengan darah kalian berdua.”
Mereka berkata kepadanya, “Wahai bapak, apakah anda tidak mengasihi badan kami yang masih kecil ini..?’
Dia berkata, “Allah tidk menjadikan secuilpun kasih sayang di dalam diriku kepada kalian berdua.”
Mereka berkata,”Wahai bapak jika demikian itu keadaanya ijinkan kami melakukan sholat beberapa rakaat.”
Dia berkata, “Sholat saja sekehendak kalian jika shoilat kalian itu bermanfaat untuk kalian.’
Kemudian kedua anak itu sholat sebanyak empat rokaat ba’da sholat kedua anak itu menganggkat kedua tangannya ke langit dan memanjatkan doa, “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Bijak, Wahai Sebaik-baik Hakim, Hakimi urusan diantara dengan dia dengan kebenaran.’
Kemudian silelaki itu memenggal kepala anak yang terbesar, kemudian kepalanya diambil dan dimasukkan kedalam keranjang lantas dia mendekati anak yang kecil yang sedang bergulingan dengan darah kakaknya sambil berkata, “Hingga aku sampaikan kepada Rasulullah saw, sementara aku berlumuran dengan darah saudaraku.’
Dia berkata, “Tidak akan pernah, aku akan susulkan dirimu dengan saudaramu itu.”
Kemudian dia mendakati anak itu dan menebas lehernya, mengambil kepalanya dan memasukannya ke dalam keranjang. Setelah itu dia melemparkan badan keduanya yang masih mengucurkan darah kedalam air.
Lalu dia meninggalkan tempat itu dan menemui Ubaidillah bin Ziyad yang sedang duduk di kursi dan ditangannya dia memegang tongkat bambu. Dia meletakkan kedua kepala anak itu di hadapannya.
Ketika Ibnu Ziyad melihat kepala itu dia berdiri kemudian duduk, berdiri duduk, sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Ziyad berkata, “Celaka engkau, dimana engkau dapatkan keduanya.
Dia menjawab, “Dia bertamu kerumah mertuaku.’
Ibnu Ziyad berkata, “Apakah engkau tahu hak tamu untuk keduanya,’
Dia menjawab, “Tidak.’
Ibnu Ziyad berkata, ‘Apa yang mereka katakan kepadamu..?’
Dia berkata, “Keduanya berkata kepadaku, ‘wahai bapak ayo perggi ke pasar dan dengarkan apa keutamaan kami. Bukankah kau tidak ingin Muhammad saw, menjadi musuhmu di hari kiamat kelak..?’
Ibnu Ziyad berkata, ‘Apa yang engkau katakan kepada mereka berdua..?
Dia berkata, ‘Aku berkata, ‘Tidak, tetapi aku akan membunuh kalian dan aku akan bawah kepala kalian kepada Ubaidilah bin Ziyad sehingga aku bisa membawa pulang dua ribu dinar itu.’
Ibnu Ziyad berkata, ‘Apa yang mereka katakan kepadamu.?’
Dia berkata, ‘wahai bapak, ayo bersam kami menghadap Ubaidillah bin Ziyad hingga ia bisa menghukumi masalah kita ini. “Ku jawab pada mereka aku tidak melihat jalan lain kecuali aku menghadapnya dengan darah kalian berdua.’
Ibnu Ziyad berkata, “Saat ini engkau datang dengan membawa kedua kepala anak itu, maukah aku gandakan hadiah untukmu..? akan aku hadiahkan bagi kepala mereka menjadi empat ribu dirham.’
Ibnu Ziyad berkata, “Lantas apa lagi yang dikatakan oleh kedua anak itu…?’
Dia berkata, “Mereka berkata, “Wahai bapak, jagalah kekerabatan kami dengan Rasulullah saw.’
Ibnu Ziyad berkata, “Apa yang engkau katakan kepada mereka berdua..?’
Dia berkata, “Aku berkata, “Kalian tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw.’
Ibnu Ziyad berkata, “Celaka engkau, apa yang engkau katakan kepada mereka berdua..?’
Dia berkata, “Mereka berkata kepadaku, “wahai bapak, apakah engkau tidak mengasihi keadaan kami yang masih kecil ini..?
Ibnu Ziyad bertanya, “Apakah engkau tidak kasihan kepada mereka..?’
Dia berkata, “Aku berkata, Allah tidak menjadikan secuilpun kasih sayang di dalam diriku kepada kalian berdua.’
Kemudian Ibnu Ziyad berkata, “Celaka engkau, apa yang engkau katakan kepada mereka berdua..?’
Dia berkata, “Mereka berkata, “Wahai bapak, jika demikian itu keadaanya, ijinkan kami melakukan sholat beberapa rakaat, “Aku berkata, “Sholat saja sekehendak kalian jika sholat kalian itu bermanfaat untuk kalian. “Maka kedua anak itu sholat sebanyak empat rakaat.’
Ibnu Ziyad berkata, “Apa yang dikatakan kedua anak itu di akhir sholat mereka..?’
Dia berkata, ‘Kemudaian kedua anak itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan memanjatkan doa, “Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Bijak, wahai Yang sebaik-baik Hakim, Hakimi urusan diantara kami dengannya dengan kebenaran.’
Ubaidillah bin Ziyad berkata, “Hakim yang bijaksana sudah memutuskan hukum diantara kalian. Siapa yang mengurus orang fasik ini…?’
Seorang dari Syam mendekat kepadanya, sambil berkata, “Aku yang mengurusnya.’
Ibnu Ziyad berkata, “Bawa dia ke tempat dia menyembelih kedua anak ini, pengal lehernya dan jangan biarkan darahnya bercampur dengan darah kedua anak itu. Bawah segera kepalanya ke sini.’
Silelaki tadi segera melakukan perintah Ibnu Ziyad dan dia segera kembali dengan membawa kepala sifasik itu yang di tancapkan di ujung tombak anak-anak melemparinya dengan kerikil dan batu sambil berteriak, “Inilah si pembunuh keturunan (dzurriat) Rasulullah saw.’
(Lihat ‘Amali al-Syaikh al-Thusi, hal.143 ; Maqtal al-Husein, Khawarizmi, hal.2/51. Bersama dengan tambahan dan sedikit perbedaan; Muntakhab, Tharihi, 2/2/376 ; Nasikh al-Tawarikh, 2/17; Bihar al-Anwar, 45/106)
Bersambung…..(bagian 24 )
===========================================
Hari ini, dunia telah menjadi saksi. Padang Karbala yang dahulu tandus tak bertuan sekarang menjadi tempat yang ramai dan di kunjungi para penziarah berjumlah jutaan setiap tahunya. Karena di Karbala itu sekarang terdapat makam pemimpin orang-orang yang merdeka Husaein bin Ali. Sementara para pembunuhnya tak satupun yang dikenal dan di ziarahi orang. Inilah, Allah tuhan semesta alam telah menunjukan kepada umat manusia sesungguhnya sesuatu yang baik tidak pernah mati, ia abadi dan terus hidup menyinari kegelapan.
Insya Allah 45 hari lagi tragedi itu akan di kenang oleh mereka yang merindukan keadilan.
Kullu yaumin Asyura, Kullu Ardin Karbala (Setiap Hari adalah Asyuro, Setiap Tanah adalah Karbala. -
KARAMAH KESYAHIDAN IMAM HUSAIN AS.
ASIB PERAMPAS IKAT PINGGANG IMAM HUSAIN as.
Dari Sa’id bin Musayyab, dia berkata, “Ketika tuanku dan penghuluku Imam Husain as telah syahid, orang-orang pergi berhaji. Aku menghadap Ali bin Husain as dan bertanya kepada beliau, “Wahai tuanku, musim haji sudah dekat, apa yang anda perintahkan kepada kami.?’
Beliau berkata, “Tunaikan niatmu, behajilah.’
Aku pun pergi berhaji, saat aku sedang bertawafah di ka’bah di sampingku ada seorang lelaki yang putus kedua tangannya, wajahnya seperti malam yang sangat gelap. Dia sedang bergelantungan di kain ka’bah, sembari berkat, ‘Ya Allah, Rabb rumah haram (suci) ini. Ampuni aku, tapi aku yakin Engkau tidak akan mengampuni aku, walau seandainya penduduk langit dan bumi memohonkan syafaat untuku atas kejahatanku yang besar.’
Sa’id bin Musayyab berkata, ‘Aku dan orang-orang berdesak-desakan melakukan tawaf sehingga orang-orang mengelilinginya dan kamipun berkumpul dengannya kami. Berkata celaka engkau, jika engkau iblis, engkau layak berputus asa dari rakhmat Allah. Siapa engkau..? Apa dosamu..?’
Dia menangis dan berkata, ‘Wahai kawan, aku mengenal diriku, mengenai dosaku dan mengenal kejahatanku.’
Kami berkata kepadanya, ‘Sebutkan dosamu itu kepada kami..?’
Dia berkata, ‘Aku adalah penuntun unta Abu Abdillah Husain as, ketika beliau keluar dari Madinah ke Irak. Saat itu kala beliau ingin berudhu, beliau mencopot celana luarnya dan dititipkan kepadaku. Aku melihat ikat pinggang beliau yang menarik perhatian karena cahayanya sangat bagus. Aku membayangkan seandainya ikat pinggang itu menjadi miliku hingga kami tiba di Karbala. Di tempat ini beliau terbunuh dan saya masih bersamanya. Aku menutupi diriku dengan tanah. Ketika malam sudah tiba aku keluar dari tempatku. Aku melihat dari peperangan tadi ada cahaya yang bersinar terang tanpa kegelapan, siang tanpa ada malam, mayat-mayat bergelimpangan. Saat itu aku ingat – karena kebejtan dan kejahatanku - ikat pinggang itu.
Aku berkata, ‘Demi Allah akn aku temukan al Husein dan aku berharap ikat pinggang itu masih ada di celana luarnya sehingga bisa aku ambil.’
Aku terus memandangi wajah mayat-mayat yang bergelimpangan itu hingga aku bisa menemukan al Husein yang aku temukan dalam keadaan melungkup. Beliau sudah menjadi mayat tanpa kepala, cahaya bersinar bernas, pasir-pasir bercampur dengan darahnya, dan angin bertiup lembut kepadanya.
Aku berkata, ‘Demi Allah inilah al Husein.’
Aku melihatnya ikat pinggangnya masih seperti yang aku lihat dulu aku mendekatinya dan menarik ikat pinggang itu untuk mengambilnya, tetapi ikat pinggang itu banyak talinya.
Aku masih belum bisa melepaskannya hingga aku berusaha melepaskan salah satu tali ikatan darinya, tetapi tangan beliau menjulur dan memegang erat ikat pinggang itu hingga aku tidak melepaskan tangannya dan mengambilnya.
Hawa nafsuku yang terkutuk menyuruhku untuk mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk memeotong tangannya. Aku cari kesana kemari, akhirnya aku menemukan sebilah pedang yang terjatuh. Aku ambil pedang itu dan aku gunakan untuk memotong tangannya. Aku terus memotongnya hingga aku pisahkan ikat pinggang itu dari sendi antara tapak tangan dan lengan atasnya. Kemudian aku singkirkan dari ikat pinggang itu. Aku julurkan tanganku untuk melepaskan tali lain dari ikat pinggang itu, tetapi tangan beliau yang kiri menjulur dan memegang ikat pinggang itu yang membuat ku tidak melepaskannya.
Aku mengambil sebilah pedang tadi. Aku terus memotong tangannya dengan pedang itu hingga terpisah dari ikat pinggang itu. Aku ulurkan tanganku untuk mengambilnya. Bersamaan dengan ini bumi bergetar dan langit bergoyang saat itu terdengar jeritan yang keras, tangisan yang pilu dan seruan yang mengguntur.
Ada seseorang berkata, ‘Wahai anaku, wahai yang terbantai, wahai yang disembelih, wahai yang terasing..! wahai anaku, mereka telah membunuhmu dan mereka tidak mengenalmu dan mereka adalah yang menghalangimu untuk minum.’
Ketika aku melihat hal itu aku gemetar dan menjungkalkan diriku di antara mayat-mayat. Ternyata mereka adalah tiga orang lelaki dan seorang perempuan di sekitar mereka ada beberapa orang yang berdiri dan bumi di penuhi dengan berbagai manusia serta sayap-sayap malaikat.
Saat itu salah seorang dari mereka berkata, ‘Wahai anaku, wahai Husein, tebusanmu kakekmu, ayahmu, dan saudaramu serta ibumu, ’Saat itu Husein telah duduk dan kepalanya sudah menyatu dengan badanya beliau berkata, “Labbaik (aku penuhi panggilan-MU) wahai, Rasulullah..! Wahai ayah, wahai Amirul Mu’minin..! Wahai Ibu, wahai Fatimah Azzahra..! Wahai saudaraku..! aku ucapkan kepada kalian.’
Kemudian dia menangis dan berkata, ‘Wahai kakekku.! Demi Allah mereka sudah membunuh para lelaki kita..! Wahai kakekku..! Demi Allah, mereka sudah menawan kaum perempuan kita. Wahai kakek, Demi Allah mereka sudah merampas kaum lelaki kita. Wahai kakek..! Demi Allah, mereka sudah menyembelih anak-anak kita. Wahai kakek..! Demi Allah, sungguh mulia anda melihat keadaan kami dan menyaksikan apa yang diperbuat orang-orang kafir itu kepada kami.’
Mereka duduk dan menangis di sekitar Imam Husein as, atas musibah yang menimpanya Fatimah as, berkata, ‘Wahai ayah, wahai Rasulullah..! Tidakkah kau lihat apa yang diperbuat ummatmu kepada anaku..? apakah anda ijinkan aku untuk mengambil darah dari rambut di kepalanya untuk aku celupkan ke ubun-ubunku..? aku akan menemui Allah Azza wajjala dalam keadan tercelup darah anaku al-Husein.’
Rasulullah saw, bersabda kepadanya, “Ambil dan kamipun akan mengambilnya.’
Aku melihat mereka mengambiul darah dari rambut di kepalanya sementara Fatimah mengusapkan darah itu ke ubun-ubunnya. Sementara nabi saw, dan Al Hasan as, mengusapkan darah itu ke leher, dada dan tangan mereka hingga ke siku.
Aku mendengar Rasulullah saw, bersada, “Aku sebagai tebusanmu, wahai Husein..! demi Allah aku merasa terhormat dapat melihatmu dalam keadaan leher terputus dan dahi yang penuh pasir, leher yang berdarah, terbalik diatas tengkukmu, angin sudah menerbangkan pasir darimu, sementara engkau terjatuh, terbunuh, dengan dua tangan terputus. Wahai anaku siapakah yang memotong tangan kananmu ini..? dan begitu juga dengan tangan kirimu..?’
Imam Husein berkata, ‘Wahai kakekku ada seorang penuntun unta bersamaku dari Madinah. Dia selalu memperhatikanku jika aku meletakkan celana luarku untuk berwudhu. Dia menginginkan ikat pingganggku. Yang membuatku tidak memberikannya kepadanya adalah karena aku mengetahui bahwa dia pelaku perbuatan ini. Ketuka aku terbunuh, dia mencariku diantar mayat-mayat ini. Akhirnya dia menemukanku sudah menjadi mayat tanpa kepala, maka dia berusaha melepaskan celana luarku, dan dia mencari ikat pinggangku yang saya ikat dengan ikatan yang banyak. Dia menarik ikat pinggangku dan berusaha melepaskan salah satu ikatannya.
Aku julurkan tangan kananku dan aku pegang ikat pinggang itu dia mencari sesuatu di medan perang ini dan dia mendapatkan sebilah pedang patah. Dia memeotong tanganku dengannya, kemudian dia melepaskan ikatan yang lain, tetapi aku memegangnya denagn tangan kiriku agar dia tidak bisa merampasnya, tetapi dia malah memotong tangan kiriku ini ketika dia ingin melepaskan ikat pinggang ini, dia merasakan kedatangan anda, maka dia menjungkirkan dirinya diantara mayat-mayat ini.’
Ketika mendengar cerita Imam Husein as, beliau menangis sejadi-jadinya dan mendatangiku yang sedang berada di antara mayat-mayat, hingga beliau berdiri dihadapan saya.
Beliau bersabda, “Wahai penungtun unta, apa salahku dan apa salahmu..? engkau memetong kedua tangan yang di cium oleh Jibril dan seluruh para malaikat Allah dan penduduk langit dan bumi mengambil berkah darinya..? tidak cukupkah bagimu apa yang di lakukan oleh para terlaknat dan terkutuk itu..? mereka menawan kaum perempuannya setelah mereka merobek tabir dan merusak kain pemisah. Semoga Allah menghitamkan wajahmu, Wahai penuntun unta di dunia dan akhirat. Semoga Allah memotong kedua tangan dan kakimu keduanya dan menjadikanmu termasuk kelompok orang-orang yang mengucurkan darah kami dan sudah berani menentang Allah.’
Belum juga Nabi Muhammad saw, berdoanya, tanganku lumpuh dan aku merasakan wajahku seperti di timpa gelap malam yang gulita. Semenjak itu aku terus berada dalam keadaan ini. Aku datang ketempat ini meminta syafaat dan aku tahu bahwa Allah tidak akan mengampuniku selamanya.’
Ibnu Musyyawab berkata, ‘Tidak ada seorangpun yang ada di Mekkah kecuali menedngar kejadiannya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melaknatnya. Semua orang berkata cukup sudah dengan kejahatan yang engkau lakukan wahai terkutuk.’
(Lihat, Al Bihar, al-Majlisi, 45/316 ; Al-Muntakhab, Tharihi.)
Ket: Menurut saya (pengarang kitab ini) nama dari penuntun unta itu adalah Buraidah bin Wabil, seperti di jelaskan oleh penulis kitab “Taj al-Muluk’ dengan sanadnya dari Abdullah Naqa Hiujazi.
Dalam riwayat lain disebutkan juga tentang hal ini.
Dari Ibnu Abbas, Ummu Kultsum berkata kepada Ibnu Ziyad, “Celaka engaku, ambil seribu dirham ini untukmu dan bawa kepala al-Husein as ke depan kami, tempatkan kami diatas unta di belakang orang-orang sehingga orang-orang sibuk memandang kepala Imam Husein as dari kami.”
Dia mengambil uang seribu dirham itu dan memberikan kepala mulia tersebut.
Esoknya dia mengeluarkan uang itu, tetapi Allah sudah menjadikannya menjadi bebatuan hitam yang disisnya tertulis.
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”
(QS.Al-Syu’ara : 227 )
Dan disisi lainya tertulis :
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang telah di perbuat oleh orang-orang yang zalim.”
(QS.Ibrahim : 42
=======================================
Hari ini, dunia telah menjadi saksi. Padang Karbala yang dahulu tandus tak bertuan sekarang menjadi tempat yang ramai dan di kunjungi para penziarah berjumlah jutaan setiap tahunya. Karena di Karbala itu sekarang terdapat makam pemimpin orang-orang yang merdeka Husaein bin Ali. Sementara para pembunuhnya tak satupun yang dikenal dan di ziarahi orang. Inilah, Allah tuhan semesta alam telah menunjukan kepada umat manusia sesungguhnya sesuatu yang baik tidak pernah mati, ia abadi dan terus hidup menyinari kegelapan.
“Insya Allah 44 hari lagi tragedi itu akan di kenang oleh mereka yang merindukan keadilan.”
Kullu yaumin Asyura, Kullu Ardin Karbala (Setiap Hari adalah Asyuro, Setiap Tanah adalah Karbala. -
Let’s participate brothers & sisters..
-
guidance in the purest form: The disturbing current truth about Ramadan
well, at least from what I see in the Arab world, or the middle east in general.
Ramadan has become a commercial holiday, something like christmas, but a month long. it’s really, extremely disappointing, disgusting even honestly.
I’m not knocking christmas or christians…



